Open Source Software

Posted: Desember 20, 2008 in Open Source

Dalam wikipedia disebutkan bahwa Sumber terbuka (Inggris: open source) adalah sistem pengembangan yang tidak dikoordinasi oleh suatu orang/lembaga pusat, tetapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas (biasanya menggunakan fasilitas komunikasi internet). Pola pengembangan ini mengambil model ala bazaar, sehingga pola Open Source ini memiliki ciri bagi komunitasnya yaitu adanya dorongan yang bersumber dari budaya memberi, yang artinya ketika suatu komunitas menggunakan sebuah program Open Source dan telah menerima sebuah manfaat kemudian akan termotivasi untuk menimbulkan sebuah pertanyaan apa yang bisa pengguna berikan balik kepada orang banyak.
Pola Open Source lahir karena kebebasan berkarya, tanpa intervensi berpikir dan mengungkapkan apa yang diinginkan dengan menggunakan pengetahuan dan produk yang cocok. Kebebasan menjadi pertimbangan utama ketika dilepas ke publik. Komunitas yang lain mendapat kebebasan untuk belajar, mengutak-ngatik, merevisi ulang, membenarkan ataupun bahkan menyalahkan, tetapi kebebasan ini juga datang bersama dengan tanggung jawab, bukan bebas tanpa tanggung jawab.
A. Konsep dan definisi Open Source Software
Pada intinya konsep open source adalah membuka “kode sumber” dari sebuah perangkat lunak. Konsep ini terasa aneh pada awalnya dikarenakan kode sumber merupakan kunci dari sebuah perangkat lunak. Dengan diketahui logika yang ada di kode sumber, maka orang lain semestinya dapat membuat perangkat lunak yang sama fungsinya. Open source hanya sebatas itu. Artinya, dia tidak harus gratis. Definisi sumber terbuka yang asli adalah seperti tertuang dalam OSD (Open Source Definition)/Definisi sumber terbuka.
Seperti telah dijelaskan di awal, free software dan open source terdapat kesamaan dan memang munculnya software open source sebagai sebuah jawaban atas “kebingungan” kata FREE dari bahasa Inggris. Sebenarnya, Open Source merupakan nama pemasaran (marketing name) untuk free software yang diperkenalkan pada Februari 1998. Open Source mengacu pada fakta bahwa “source code (kode sumber)” dari Free Software adalah terbuka bagi dunia untuk mengambil dan memanfaatkannya sehingga dapat dimodifikasi untuk digunakan kembali (modify and to reuse). Tujuan Free Software adalah untuk memberikan kepada publik secara gratis, dan memang perkembangan free software sangat pesat karena para “developer” Sangat giat memperbarui sistem yang ada. Open Source dan Free Software merupakan nama yang sama sejak diperkenalkan sekitar bulan Februari 1998.
Agar suatu program dapat dikategorikan sebagai program yang Open Source, maka program tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang terdapat dalam definisi Open Source secara bersamaan dan pada semua keadaan. Definisi Open Source sendiri memiliki tujuan untuk melindungi proses Open Source dan menjamin perangkat lunak yang didistribusikan dengan menggunakan lisensi Open Source akan tersedia untuk peer review secara bebas dan dapat mengalami perbaikan terus menerus hingga dapat mencapai tingkat kehandalan serta menjaga kemungkinan menjadi produk yang Close Source. Istilah dari Open Source sendiri tidak semata-mata hanya berarti adanya keterbukaan untuk mengakses Source Code perangkat lunak, namun sebenarnya memiliki cakupan arti yang lebih luas. Mengacu pada the Open Source definition version 1.3.
Definisi Open Source yang bebas ini dijabarkan menjadi empat buah, yaitu:
1. Kebebasan menjalankan program untuk keperluan apapun.
2. Kebebasan untuk mengakses source code program sehingga dapat mengetahui cara kerja program.
3. Kebebasan untuk mengedarkan program.
4. Kebebasan untuk memperbaiki program.
5. Kebebasan untuk menjualnya tanpa harus memilikinya
B. Open Source Initiative ( OSI )
Beberapa kalangan developer dan vendor menganggap terlalu ketatnya lisensi GPL, sekali GPL maka turunan karya software harus GPL juga, hal ini mengurangi pengembangan yang dibutuhkan oleh vendor atau developer tertentu sebagai bentuk Free as Free Speech, tidak hanya Free sebagai Freedom. Beberapa evangelist Free Software seperti Bruce Perens dan Eric Raymond membentuk Open Source Initiative (OSI) dengan konsep Open Source Software (OSS) di tahun 1998 yang mengembangkan konsep Open Source yang lebih lebar dibandingkan dengan Free Software, sehingga Free Software atau GPL compliant atau tunduk dalam konsep Open Source yang lebih open.

C. Pergerakan Open Source dan Free Software
Pergerakan free software dan open source saat ini membagi pergerakannya dengan pandangan dan tujuan yang berbeda. Open source adalah pengembangan secara metodelogi, perangkat lunak tidak bebas adalah solusi suboptimal. Bagi pergerakan free software, perangkat lunak tidak bebas adalah masalah sosial dan free software adalah solusi.
D. Open Source Mendapat Lisensi Microsoft
Open Source Initiative (OSI) mengatakan telah menyetujui dua buah lisensi dari Microsoft dan menerimanya sebagai lisensi perangkat lunak open source. Meskipun banyak dari komunitas open source yang menentang dan menganggap keputusan ini sama saja dengan menerima “rubah berbulu domba”, dewan OSI tetap pada pendiriannya, menerima kedua lisensi tersebut dengan senang hati.
Presiden OSI Michael Tiemann menulis bahwa dewan OSI telah menerima Microsoft Public License (Ms-PL) dan Microsoft Reciprocal License (Ms-RL). Beliau menyebutkan bahwa lisensi ini telah memenuhi 10 kriteria dari definisi open source versi OSI saat ini sudah mencapai versi 1.9 yaitu:
1. Free Redistribution. Bebas untuk didistribusikan ulang.
2. Source Code. Source code harus tersedia bebas.
3. Derived Works. Boleh dimodifikasi/diturunkan dengan lisensi yang sama.
4. Integrity of The Author’s Source Code. Source code asli boleh restricted (didistribusikan tanpa dimodifikasi) asal memperbolehkan distribusi modifikasi/turunan dalam bentuk patch.
5. No Discrimanations Againts Persons or Groups. Tak ada diskriminasi terhadap orang atau kelompok tertentu.
6. No Discrimanations Againts Fields of Endeavor. Tak ada diskriminasi terhadap pemakaian dalam bidang tertentu.
7. Distribution of License. Lisensi harus disertakan dalam setiap produk software dan turunannya.
8. License Must Not Be Specific to a Product. Lisensi tidak boleh hanya untuk produk tertentu.
9. License Must Not Restrict Other Software. Lisensi tidak boleh membatasi software lain.
10. License Must Be Technology-Neutral. Lisensi harus netral terhadap teknologi pendistribusian, misalnya tidak boleh mendistribusikan hanya dalam media CDROM saja.
E. Ada banyak pengembangan OSS, antara lain:
1. Pengembangan low level: contohnya adalah pengembangan kernel, dan device driver.
2. Pengembangan aplikasi: baik dalam bentuk aplikasi secara keseluruhan (complete package) atau ikut berpartisipasi dalam mengembangkan bagian dari aplikasi (participating in existing application development).
3. Pengembangan sebuah paket: bisa berbentuk distribusi (distro) khusus, atau paket aplikasi.
4. Pengembangan sistem untuk pengelolaan OSS: contohnya adalah aplikasi yang dapat digunakan untuk mempermudah instalasi paket atau aplikasi baru, aplikasi yang dapat digunakan untuk mengatur dan mengubah konfigurasi sistem, dan sejenisnya.
5. Penelitian tentang model bisnis dari OSS ini.
6. Penelitian mengenai strategi/mekanisme penyebaran OSS ini.
F. Motivasi Pengembang OSS
The Boston Consulting Group/OSDN Hacker Survey mengelompokkan pengembang OSS berdasarkan motivasinya. Berikut adalah hasil surveynya:
1. Learning and Fun (29%): membuat program untuk belajar (stimulasi intelektual,langkah untuk menjadi profesional).
2. Hobbyists (27%): membuat program karena hobby.
3. Professionals (25%): untuk kebutuhan kerja dan meningkatkan komptetensi (profesional).
4. Believers (19%): percaya bahwa kode program harus terbuka (ideologi dalam pemrograman).

G. Kesulitan Pengembangan Open Source Software
Pengembangan OSS di Indonesia bisa dibilang masih sangat minim. OSS di Indonesia bisa dikatakan baru sebatas menggunakan saja tanpa melakukan memodifikasi, mengutak-ngatik, atau memperbaiki bug yang ada. OSS sulit dikembangkan di Indonesia karena alasan-alasan sebagai berikut:
1. Membutuhkan kemampuan teknis yang tinggi.
2. Sistem insentif (reward) yang tidak mengikuti pola pengembangan software proprietary yang ada.
3. Model bisnis yang tidak mengikuti pola model bisnis software proprietary.
4. Kepemilikan yang tidak jelas, sehingga cenderung berlawanan (anti-thesis) dengan pola pengembangan IPR (Intellectual Property Right) yang juga sedang digalakkan oleh pemerintah dalam penelitian yang didanai selama ini.
5. Tidak tahu bagaimana caranya memulai mengembangkan OSS.
6. Hegemoni produk prorietary yang sudah lebih dulu masuk ke pasar dan menjadi standar umum.
H. Kendala Bahasa
Bahasa ternyata masih menjadi kendala yang cukup besar dalam mengembangkan OSS. Biarpun belum ada data yang cukup akurat, namun dari diskusi yang ada di milis-milis komunitas GNU/Linux Indonesia, tercermin pengembang OSS di Indonesia masih mengalami kesulitan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Informasi berbahasa asing masih dianggap berjarak.
Untuk mengatasi kendala ini dapat ditempuh dengan dua alternatif sekaligus :
1. Menerjemahkan dokumentasi-dokumentasi seputar OSS ke dalam Bahasa Indonesia.
2. Mendorong pengembang OSS Indonesia untuk dapat berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
I. Beberapa Contoh Software Open Source
Jika kita browsing di Internet dengan kata kunci open source maka akan ditampilkan daftar beberapa situs yang memuat sorftware bersifat open source. Masing-masing situs berbeda dalam menyajikan software yang dapat didownload secara gratis tersebut.
Software tersebut juga dikelompokkan berdasarkan kategori, sebagai bahan pembanding berikut ini diambil dari salah satu situs yang memuat software berdasarkan kategori :
1. Database:Tuxx Racer, KeePass Password Save
2. Desktop: GNU/Win32, KeePass Password Save
3. Development: Dev-C++, ZK – Ajax but no Javascript
4. Enterprise: Compiere ERP + CRM Business Solution, JasperReports – Java Reporting
5. Games: ZSNES, KoLmafia
6. Multimedia: Weka–Machine Learning Software in Java, ZK – Ajax but no JavaScript
7. Networking: FileZilla
8. Security: Eraser, KeePass Password Safe
9. Hardware: Tcl, Open HPI
10. SysAdmin: TightVNC, phpMyAdmin
11. VoIP: trixbox, freePBX
12. CMS: Atutor, os-Commerce, Joomla, Mambo, Moodle
h21

J. POSS ITS
Latar Belakang
Sebagai salah satu institusi pendidikan yang bergerak di bidang teknologi, ITS mau tidak mau harus mengakomodasi dua ‘aliran’ yang pengembangan software. Dua aliran yang terus menerus bersaing tersebut adalah aliran copyright dan copyleft. Dengan kekuatan, aliran copyright berusaha mengunggulkan produk-produknya. Sebaliknya, aliran copyleft terkesan tidak ada yang mempromosikannya.
Padahal banyak produk-produk aliran copyleft alias OSS yang tidak kalah kualitasnya. Pada sisi lain, Indonesia sedang berupaya menegakkan HAKI. Upaya tersebut terasa sulit karena masyarakat kita sudah lama terbutakan dan terbius oleh software bajakan. Untuk itu upaya pemasyarakatan produk-produk OSS perlu digiatkan.
POSS – ITS adalah kebijakan program Indonesia Go Open Source (IGOS) bertujuan meningkatkan akselerasi pendayagunaan Open Source Software (OSS) dan memperkuat upaya infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Untuk itu ITS mendirikan pusat kegiatan yang berhubungan dengan OSS di kota Surabaya khususnya bagi komunitas Open Source di ITS dengan nama : POSS-ITS ”Pemberdayagunaan Open Source Software – ITS”.
untitled1untitled2
(sumber: http://poss.its.ac.id/)
K. Referensi
1. osc.ugm.ac.id
2. www.e-dukasi.net
3. cloofcamp.netfirms.com
4. www.wikipedia.com
5. majalah-linux.baliwae.com
6. rahard.wordpress.com
7. bebas.vlsm.org
8. yulian.firdaus.or.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s